Dalam manajemen perusahaan kita kenal macam-macam sistem, setidaknya ada sistem keuangan,pelayanan dan produksi.Antar subsistem satu dengan lainnya saling terkait dan saling ketergantungan, hal ini berlaku bagi semua perusahaan termasuk institusi sekolah swasta.Perbedaan yang paling nampak adalah aktivitas produksinya,kalau di sekolah aktivitas produksinya berupa Proses Pembelajaran.Maka seorang manajer tak boleh hanya perhatian pada satu subsistem saja,karena antar sub sistem saling berhubungan sabab-akibat.
Menurut teori manajemen tingkatan manajer terdiri dari top,midle dan low manajer.Dari sisi skill top manajer seharusnya lebih kuat di skill konseptual dan sedikit skill technical. Midle manajer seharusnya lebih berkompeten dalam human relation dan memahami concept skill dan technical skill tetapi tidak terlalu mendetail.Sedangkan Low Manajer seharusnya lebih menguasai secara teknis dan sedikit konsep.
Dari sisi penguasaan sumber informasi Top Manajer hendaknya mengasai perkembangan luar sebesar 75% dan informasi dari dalam 25%. Midle Manajer hendaknya menguasai informasi baik dari dalam atau dari luar masing-masing 50%.Sedangkan Low Manajer hendaknya menguasai dari luar 25% dan dari dalam 75%.Nah dari teori tersebut hendaknya kita bisa melakukan evaluasi diri,sekarang kita berada pada tingkat manajer yang mana, apakah kompetensi dan aktivitas kita sudah sesuai atau belum ?
Kalau saya sekarang lebih merasa posisi saya berada pada level Midle Manajer,dengan konsekuensi saya harus banyak melakukan aktivitas human relation untuk membangun komunikasi guna menangkap berbagai informasi baik dari atas maupun dari bawah, walaupun skill konsep dan teknik harus juga saya miliki. Namun pemahaman saya terhadap posisi saya tidak terpahami oleh subsistem lain sehingga apa yang saya gagas dan rencanakan selalu tidak sampai.Akhirnya muncul pertanyaan baru siapa seharusnya yang membuat dan mempertahankan keberlangsungan sistem.
Kini saya sedang berusaha menciptakan kebiasaan diskusi sambil menangkap berbagai permasalahan, tetapi Top Manajer seakan sudah keburu ingin menylesaikan masalah dengan caranya tanpa didahului dengan membangun komunikasi yang baik.Sementara Manajer di bawah saya masih menganggap bahwa diskusi/meeting itu sebatas sebagai kuwajiban belaka belun menghargai sebagai media mengurai permasalahan dan mencari pemecahannya.
Dengan kurangnya pemahaman terhadap fungsinya masing-masing saya memberanikan diri untuk mengevaluasi sistem yang ada di tempat saya bekerja.Walaupun kesulitan dan kendala sudah terbayangkan tetapi harus maju pantang mundur, soal barhasil atau gagal nanti urusan belakang.Bukan nekat bunuh diri tetapi nekat dengan perhitungan untuk keluar dari sistem yang cacat.Ada beberapa penyebab belum semangatnya komponen sistem di tempat saya bekerja, pertama mungkin belum memahami konsep(visi dan misi), kedua hanya menghargai sbg tugas(kepuasan upah), dan yang ketiga merasa tidak diperhatikan(kemitraan,keadilan,empati).
Saya mengajak kepada rekan-rekan yang bekerja di lembaga berinisial ATQ untuk menghargai event AF-2 nanti sebagai media belajar dan berkolaborasi dalam mengekspresikan kompetensi dan profesi.Untuk sementara jangan pedulikan pimpinan kita akan memperhatikan atau tidak.Kalau kita tidak berprinsip demikian saya khawatir di akhir acara nanti kita tidak akan mendapatkan berkah dan kepuasan,justru kekesalan yang kita dapatkan.Yakinlah kawan-kawan dengan niat yang baik,ikhtiar yang baik insya Alloh akan diperoleh hasil yang baik pula.Baik bagi kita pribadi dan baik untuk orang lain,inilah sebenarnya makna rahmatan lil alamin.Wallohua'lam bissawaf.
UnTitled
Beringin Pelindung Perkasa
27/10/09
Nekat,Demi Terhindar dari Sistem yang Cacat
22/03/09
Harimau Jambi

Belum lama ini Muaro Jambi dihebohkan oleh kawanan harimau yang berkeliaran di hunian penduduk, konon telah memkan puluhan korban penduduk setempat. Tapi pihak konservasi bersikeras untuk tidak membunuh harimau pembunuh tersebut.
09/03/09
Interaksi dalam Pembelajaran

Agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan berkelanjutan diperlukan suasana yang menghadirkan rasa saling kasih dan sayang antara guru dan siswa.
Murid kepada guru:jika guru memulai bicara janganlah engkau sela, jika menunjukan sesuatu yang dimaksudkan mengagumkan maka kagumilah, jika ia bermaksud melucu maka tertawalah, pendek kata buanglah kesan kebosanan dan sikap kasar.
Guru kepada murid: jika engkau menginginkan murid-murid menyukaimu maka cintailah mereka, jika engkau menginginkan mereka memperlakukanmu layaknya ayah maka perlakukan mereka layaknya anakmu. Karena karakter dasar para murid adalah menyukai guru bisa mencintainya, menyambut mereka dengan senyum dan keceriaan. Apabila suasan hati mereka sudah menyukai gurunya maka mereka akan mentaati perintah gurunya dan antusias dalam mengikuti proses pembelajaran bersama gurunya. Pada gilirannya guru akan mudah memberikan pengaruh-pengaruh perilaku positif dalam membentuk watak atau kepribadian yang mulia.
Berikut adalah beberapa perbuatan yang dapat menumbuhkan dan memantapkan rasa cinta antara siswa dan guru:
Ø Mengenal nama-nama siswa;
Ø Memahami karakter setiap individu siswa;
Ø Sabar dalam menanggapi perilaku siswa;
Ø Sesekali meminta pendapat/pertimbangan dari siswa;
Ø Berbicara dengan mereka dengan menyebut nama terindahnya;
Ø Kejernihan hati nurani terhadap siswa.
Jangan engkau bertanya kepada seseorang tentang apa yang menimpanya,
Rasakan dengan hatimu apa yang terjadi di hatinya,
Jika ada kebencian maka seperti itu pada hatimu atau
Jika cinta yang ada maka cinta itu didapatkan dari cintamu.
(Ontology Muhammad Al-Warraq,p.156)
Murid kepada guru:jika guru memulai bicara janganlah engkau sela, jika menunjukan sesuatu yang dimaksudkan mengagumkan maka kagumilah, jika ia bermaksud melucu maka tertawalah, pendek kata buanglah kesan kebosanan dan sikap kasar.
Guru kepada murid: jika engkau menginginkan murid-murid menyukaimu maka cintailah mereka, jika engkau menginginkan mereka memperlakukanmu layaknya ayah maka perlakukan mereka layaknya anakmu. Karena karakter dasar para murid adalah menyukai guru bisa mencintainya, menyambut mereka dengan senyum dan keceriaan. Apabila suasan hati mereka sudah menyukai gurunya maka mereka akan mentaati perintah gurunya dan antusias dalam mengikuti proses pembelajaran bersama gurunya. Pada gilirannya guru akan mudah memberikan pengaruh-pengaruh perilaku positif dalam membentuk watak atau kepribadian yang mulia.
Berikut adalah beberapa perbuatan yang dapat menumbuhkan dan memantapkan rasa cinta antara siswa dan guru:
Ø Mengenal nama-nama siswa;
Ø Memahami karakter setiap individu siswa;
Ø Sabar dalam menanggapi perilaku siswa;
Ø Sesekali meminta pendapat/pertimbangan dari siswa;
Ø Berbicara dengan mereka dengan menyebut nama terindahnya;
Ø Kejernihan hati nurani terhadap siswa.
Jangan engkau bertanya kepada seseorang tentang apa yang menimpanya,
Rasakan dengan hatimu apa yang terjadi di hatinya,
Jika ada kebencian maka seperti itu pada hatimu atau
Jika cinta yang ada maka cinta itu didapatkan dari cintamu.
(Ontology Muhammad Al-Warraq,p.156)
06/03/09
Waspada Lingkungan Sosial Anak Kita
Elly Risman, Ketua pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati dalam seminar “Memahami Dahsyatnya Kerusakan Otak Akibat Pornografi dan Narkoba ditinjau dari Neuroscience” berdasarkan hasil penelitiannya menyatakan bahwa dari 28 Provinsi sebagian orang tua tidak tahu kalau games dan situs yang disaksikan anak-anaknya mengandung unsur pornografi.Dari hasil survey lain “Mengapa anak-anak ingin melihat adegan pornografi ?” 27 % mengaku iseng, 10% dipengaruhi teman dan 4% takut dibilang kurang gaul. Rangsangan atau informasi yang diterima anak melalui penglihatan, pendengaran dan pengalamannya akan membentuk pola perilakunya. Menurut Syafi’i Ahmad Sekjen Depkes menyatakan bahwa informasi tentang pornografi akan merusak sel-sel otak yang mengakibatkan gangguan terhadap perilaku dan intelegensi anak yang secara jangka panjang akan menurunkan produktivitas dan memperburuk Human Develovment Index(HDI) Indonesia yang saat ini masih memprihatinkan. Dan yang membuat kita miris lagi adalah hasil survey dari Komnas Perlindungan Anak terhadap 4.500 responden di 12 kota besar tahun 2007 memperoleh data sebagai berikut:
- 97% remaja pernah nonton pornografi;
- 93,7% pernah ciuman,petting dan oral sex;
- 62,7% siswi SMP tidak perawan lagi dan
- 21,2% siswi SMA pernah melakukan aborsi.
Na’udzubillahiminzaliq, semoga data ini bisa membuat sadar kita sebagai orang tua bahwa begitu mencemaskannya pengaruh lingkungan sosial anak-anak kita. Tetapi kita juga tidak bisa hanya melarang tidak boleh ini dan itu, tidak boleh berteman dengan si A dan si B dan sebagainya. Kita sebagai orang tua di zaman sekarang harus terus mengapgrade ilmu dan pemahaman dunia anak-anak kita. Selanjutnya secara terencana dan berkelanjutan kita memberikan bimbingan dengan pendekatan kolaboratif dan aspiratif.
(Sumber Republika,6 Maret 2009).
01/03/09
POLITIK, PEMILU, DEMOKRASI.............???

Jumlah partai yang kini mencapai 38 macam telah menjadi faktor munculnya caleg dari berbagai latar belakang dan kualifikasinya yang direkruit oleh partai menyerupai sistem lelang. Partai seharusnya bisa merekrut caleg yang berkualitas dengan kaderisasi yang sistemik bukan seperti sekarang ini, justru partai yang berkeliling menawarkan formulir mencari caleg, siapa yang mampu memberi kontribusi dana besar dialah yang akan masuk daftar caleg, padahal partai tahu bahwa mereka itu belum punya investasi sosial apa-apa. Setelah masuk daftar calon tetap mereka berkampanye dengan pendekatan obral dalam pengertian berbagai karakter,kapabelitas dan latar belakang caleg hiruk-pikuk menawarkan diri kepada konstituen, tentunya mereka mengatakan bahwa dirinya dan partainya yang paling baik, oleh karena itu kita sebagai pemilih harus tahu kualitas masing-masing caleg dan konsep partai. Kondisi demikian menyebabkan masyarakat semakin tidak respek terhadap Pemilu yang merupakan momen penting dalam keberlangsungan pemerintahan yang diharapkan membawa perubahan kedepan ke arah yang lebih baik.
Para intelektual dan terpelajar kini telah merasa bahwa sistem pemerintahan yang disusun secara ideal oleh pendahulu telah diobrak-abrik oleh para legislatif bermental calo yang tidak bekerja berbasis konstituen tapi lebih mementingkan pribadinya dalam mengembalikan modal kampanye, orang awam pun telah tahu seperti apa kualitas para caleg yang marak tebar pesona layaknya pahlawan kesiangan menjelang Pemilu 2009. Para Caleg melakukan strategi pencitraan diri melalui pemasangan gambar, iklan dan strategi instan lain. Yang lebih ironis lagi gambar atau iklan yang dipublikasikan pun masih banyak yang mendompleng ketenaran tokoh atau kebesaran partai tertentu. Yang demikian itu menurut penulis menunjukan bahwa caleg tersebut tidak mampu berbuat apa-apa. Apa pun latar belakang pendidikan dan status sosialnya para caleg harus memiliki pemahaman atas tugasnya nanti jika terpilih yakni tugasnya sebagai pengawas jalannya pemerintahan, penyusun anggaran dan pembuat undang-undang.
Untung saja penentuan Caleg Terpilih Pemilu 2009 tidak lagi menggunakan sistem nomor urut seperti Pemilu 2004 tetapi sudah menggunakan acuan suara terbanyak dan persebaran suara, sistem ini lebih bisa diterima karena lebih adil dan menghargai kepada siapa suara rakyat ditujukan. Kita sebagai pemilih tidak boleh putus harapan dengan bersikap (abstein) sebagai golongan putih, ini terlepas dari adanya fatwa MUI atau tidak, karena kalau banyak yang golput akan menguntungkan pihak-pihak rival kita yang menggunaka hak pilihnya. Menurut penulis masih ada secercah harapan yaitu dengan cara kita bentuk Komunitas Pemilih kemudian kita undang salah satu Caleg yang menurut kita bisa diharapkan menjadi wakil komunitas kita, kemudian kita ajak berdialog tentang program apa yang direncanakan dan kita sampaikan pula kemauan dari komunitas kita sebagai perwakilan dari masyarakat. Ingat dan pastikan tanggal 9 April 2009 Anda gunakan hati nurani untuk mentukan pilihan.
Saya berharap Caleg terpilih saat dilantik bisa merenung sejenak “siapakah yang telah memilihmu hingga menjadi anggota legislatif” maka abdikanlah kerja jabatanmu demi kepentingan konstituenmu tanpa merugikan yang lain.
Dan kepada eksekutif terpilih janganlah berlebihan berpihak kepada partai atau golongan tertentu yang mengusungmu, walaupun secara logika bisa diterima tetapi dari sisi ketatanegaraan sikap tersebut sangat merugikan masyarakat dan mengkhianati jabatan, karena Bupati atau Gubernur bukanlah milik salah satu partai tetapi menjadi milik seluruh rakyat yang harus mengakomodir kepentingan masyarakat dalam wilayah tersebut. Apalagi sampai menggunakan taktik balas dendam terhadap lawan politik, seperti yang sering kita saksikan setiap terjadi pergantian jabatan politik yang selalu diikuti perombakan kabinet tanpa mempertimbangkan keprofesionalnya personalnya. Yang sangat memprihatinkan lagi jabatan kepala sekolah yang seharusnya jabatan karir yang harus steril dari pengaruh politik ternyata telah menjadi korban kebengisan dan keserakahan politik akhir-akhir ini.
Para intelektual dan terpelajar kini telah merasa bahwa sistem pemerintahan yang disusun secara ideal oleh pendahulu telah diobrak-abrik oleh para legislatif bermental calo yang tidak bekerja berbasis konstituen tapi lebih mementingkan pribadinya dalam mengembalikan modal kampanye, orang awam pun telah tahu seperti apa kualitas para caleg yang marak tebar pesona layaknya pahlawan kesiangan menjelang Pemilu 2009. Para Caleg melakukan strategi pencitraan diri melalui pemasangan gambar, iklan dan strategi instan lain. Yang lebih ironis lagi gambar atau iklan yang dipublikasikan pun masih banyak yang mendompleng ketenaran tokoh atau kebesaran partai tertentu. Yang demikian itu menurut penulis menunjukan bahwa caleg tersebut tidak mampu berbuat apa-apa. Apa pun latar belakang pendidikan dan status sosialnya para caleg harus memiliki pemahaman atas tugasnya nanti jika terpilih yakni tugasnya sebagai pengawas jalannya pemerintahan, penyusun anggaran dan pembuat undang-undang.
Untung saja penentuan Caleg Terpilih Pemilu 2009 tidak lagi menggunakan sistem nomor urut seperti Pemilu 2004 tetapi sudah menggunakan acuan suara terbanyak dan persebaran suara, sistem ini lebih bisa diterima karena lebih adil dan menghargai kepada siapa suara rakyat ditujukan. Kita sebagai pemilih tidak boleh putus harapan dengan bersikap (abstein) sebagai golongan putih, ini terlepas dari adanya fatwa MUI atau tidak, karena kalau banyak yang golput akan menguntungkan pihak-pihak rival kita yang menggunaka hak pilihnya. Menurut penulis masih ada secercah harapan yaitu dengan cara kita bentuk Komunitas Pemilih kemudian kita undang salah satu Caleg yang menurut kita bisa diharapkan menjadi wakil komunitas kita, kemudian kita ajak berdialog tentang program apa yang direncanakan dan kita sampaikan pula kemauan dari komunitas kita sebagai perwakilan dari masyarakat. Ingat dan pastikan tanggal 9 April 2009 Anda gunakan hati nurani untuk mentukan pilihan.
Saya berharap Caleg terpilih saat dilantik bisa merenung sejenak “siapakah yang telah memilihmu hingga menjadi anggota legislatif” maka abdikanlah kerja jabatanmu demi kepentingan konstituenmu tanpa merugikan yang lain.
Dan kepada eksekutif terpilih janganlah berlebihan berpihak kepada partai atau golongan tertentu yang mengusungmu, walaupun secara logika bisa diterima tetapi dari sisi ketatanegaraan sikap tersebut sangat merugikan masyarakat dan mengkhianati jabatan, karena Bupati atau Gubernur bukanlah milik salah satu partai tetapi menjadi milik seluruh rakyat yang harus mengakomodir kepentingan masyarakat dalam wilayah tersebut. Apalagi sampai menggunakan taktik balas dendam terhadap lawan politik, seperti yang sering kita saksikan setiap terjadi pergantian jabatan politik yang selalu diikuti perombakan kabinet tanpa mempertimbangkan keprofesionalnya personalnya. Yang sangat memprihatinkan lagi jabatan kepala sekolah yang seharusnya jabatan karir yang harus steril dari pengaruh politik ternyata telah menjadi korban kebengisan dan keserakahan politik akhir-akhir ini.
23/02/09
Kompetensi Strategi Pembelajaran
Pemahaman dan penerapan KTSP di sekolah-sekolah, menurut pengamatan penulis masih jauh dari harapan. Selain guru belum memahami konstelasi mata pelajaran yang diajarkan dalam kaitannya dengan mata pelajaran lain, guru juga masih melihat berbagai mata pelajaran secara terpisah. Guru masih melihat mata pelajaran berupa "buku teks" belum sebagai " konteks".
Menurut Prof.Suyanto,Ph.D.(Rektor UNJ), guru harus diajak berubah dengan dilatih dan berlatih terus dalam hal menyusun perangkat pembelajaran, penerapan metoda pembelajaran berbasis inquiry, discovery, CTL, evaluasi dan memahami perubahan filosofinya dsb.
Menurut hasil penelitian John Dewey(1916) menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika yang dipelajari terkait dengan apa yang mereka ketahui dan berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di sekelilingnya. Ada beberapa yang dilakukan guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran secara kontekstual, antara lain :- Pembelajaran berbasis masalah (problem solving approach);
- Memanfaatkan lingkungan untuk memperolah pengalaman belajar;
- Menciptakan aktivitas kelompok;
- Menciptakan aktivitas belajar mandiri (indpendence learning);
- Menciptakan belajar berkolaborasi dengan masyrakat;
- Menerapkan penilaian autentik.
Secara filosofis maupun praktis guru harus memahami hal-hal berikut:
- prinsip dasar kerja otak kiri dan kanan;
- pendekatan quantum teaching and learning;
- konsep multiple intelegece;
- taksonomi bloom;
- metode CTL;
- mengakses internet sebagai sumber belajar;
- mengorkestrasi materi yang diajarkan dengan mata pelajaran lain.
- Relevansi (relating)
- Pengalaman langsung (experiencing).
- Aplikasi (applying).
- Kerjasama (cooperating).
- Alih pengetahuan (transferring).
22/02/09
Multiple Intelegence (MI)
Tes yang dikembangkan oleh Alfet Binet(1904),menurut Gardner (1983) belum mampu mengukur kecerdasan seseorang secara sepenuhnya, karena beru mancakup kecerdasan linguistik,matematis- logis dan spasial-visual saja.Belum meliputi 8 kecerdasan yang ia analisis yakni:kecerdasan linguistik,matematis-logis,spasial-visual,kinestetik-jasmani,musikal,interpersonal,intrapersonal dan kecerdasan naturalis.
Ada dua tahapan yang harus dilakukan agar penerapan strategi pembelajaran MI berhasil dengan optimal:
1). Memberdayakan semua kecerdasan pada setiap mata pelajaran,
Salah satunya dengan mengubah TIK/indikator,misal "siswa dapat membaca puisi dengan intonasi benar di depan kelas" diubah menjadi "siswa dapat membaca puisi dengan intonasi benar di halaman sekolah".
2).Mengoptimalkan pencapaian mata pelajaran tertentu berdasarkan kecerdasan yang menonjol pada masing-masing siswa.
Guru harus mengenali kecerdasan yang paling menonjol masing-masing siswa.Kemudian guru harus mampu memberikan layanan individual menyesuaikan potensi keunggulan siswa.Setiap siswa dimotivasi untuk mengoptimalkan kecerdasan keunggulannya sehingga menjadi bermakna baginya sedangkan kecerdasan lain tetap diperhatikan untuk mencapai batas minimal yang ditentukan lembaga pendidikan.
Ada dua tahapan yang harus dilakukan agar penerapan strategi pembelajaran MI berhasil dengan optimal:
1). Memberdayakan semua kecerdasan pada setiap mata pelajaran,
Salah satunya dengan mengubah TIK/indikator,misal "siswa dapat membaca puisi dengan intonasi benar di depan kelas" diubah menjadi "siswa dapat membaca puisi dengan intonasi benar di halaman sekolah".
2).Mengoptimalkan pencapaian mata pelajaran tertentu berdasarkan kecerdasan yang menonjol pada masing-masing siswa.
Guru harus mengenali kecerdasan yang paling menonjol masing-masing siswa.Kemudian guru harus mampu memberikan layanan individual menyesuaikan potensi keunggulan siswa.Setiap siswa dimotivasi untuk mengoptimalkan kecerdasan keunggulannya sehingga menjadi bermakna baginya sedangkan kecerdasan lain tetap diperhatikan untuk mencapai batas minimal yang ditentukan lembaga pendidikan.
Langganan:
Postingan (Atom)