Elly Risman, Ketua pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati dalam seminar “Memahami Dahsyatnya Kerusakan Otak Akibat Pornografi dan Narkoba ditinjau dari Neuroscience” berdasarkan hasil penelitiannya menyatakan bahwa dari 28 Provinsi sebagian orang tua tidak tahu kalau games dan situs yang disaksikan anak-anaknya mengandung unsur pornografi.Dari hasil survey lain “Mengapa anak-anak ingin melihat adegan pornografi ?” 27 % mengaku iseng, 10% dipengaruhi teman dan 4% takut dibilang kurang gaul. Rangsangan atau informasi yang diterima anak melalui penglihatan, pendengaran dan pengalamannya akan membentuk pola perilakunya. Menurut Syafi’i Ahmad Sekjen Depkes menyatakan bahwa informasi tentang pornografi akan merusak sel-sel otak yang mengakibatkan gangguan terhadap perilaku dan intelegensi anak yang secara jangka panjang akan menurunkan produktivitas dan memperburuk Human Develovment Index(HDI) Indonesia yang saat ini masih memprihatinkan. Dan yang membuat kita miris lagi adalah hasil survey dari Komnas Perlindungan Anak terhadap 4.500 responden di 12 kota besar tahun 2007 memperoleh data sebagai berikut:
- 97% remaja pernah nonton pornografi;
- 93,7% pernah ciuman,petting dan oral sex;
- 62,7% siswi SMP tidak perawan lagi dan
- 21,2% siswi SMA pernah melakukan aborsi.
Na’udzubillahiminzaliq, semoga data ini bisa membuat sadar kita sebagai orang tua bahwa begitu mencemaskannya pengaruh lingkungan sosial anak-anak kita. Tetapi kita juga tidak bisa hanya melarang tidak boleh ini dan itu, tidak boleh berteman dengan si A dan si B dan sebagainya. Kita sebagai orang tua di zaman sekarang harus terus mengapgrade ilmu dan pemahaman dunia anak-anak kita. Selanjutnya secara terencana dan berkelanjutan kita memberikan bimbingan dengan pendekatan kolaboratif dan aspiratif.
(Sumber Republika,6 Maret 2009).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar